Gak terasa tinggal beberapa hari lagi kami berada di SMA. Tempat dimana kenangan indah, sedih, duka, bercampur baur. Tempat dimana kami ...

Hidayah Rohis

Gak terasa tinggal beberapa hari lagi kami berada di SMA.
Tempat dimana kenangan indah, sedih, duka, bercampur baur.
Tempat dimana kami menemukan arti persahabatan.
Tempat dimana kami menemukan yang namanya jatuh cinta.

Ngomongin soal perpisahan yang semakin dekat.
Gak kebayang nanti waktu kita reuni 5 sampai 10 tahun kedepan.
Kau temukan aku jadi orang yang sukses dan kutemukan kau jadi orang yang sukses.

Satu hal yang tak terbayang ketika kita bertemu dan kutemukan kau bagai pohon layu yang luntang lantung.
tak ada harapan, tak ada karya, tak ada prestasi.
Aku sangat membenci mu apabila itu terjadi maka berjanjilah hal itu takkan terjadi.

Pacaran di sekolah menjadi hal yang aneh buat ku
walaupun aku sering merayu wanita
tak satupun ku anggap serius
itu semua hanya bercanda walau di hatiku ingin.

Ku takut dengan allah
ku takut dengan azab allah
ku takut diriku tercebur dalam zina
yang akan mendapat siksa yang amat pedih di neraka nanti.

Ku pernah alami di masa SMP
hari-hari penuh maksiat tanpa ragu
nikmat memang, tapi itu bukan bahagia
kekhawatiran selalu datang menghampiri.

Bagaimana jika aku mati sekarang?
Apa yang sudah ku siapkan?
Amalan apa yang sudah ku kerjakan?
Apa yang akan ku jawab nanti di akhirat?

SMA kutemukan Hidayah
teman dan mentor yang luar biasa cinta kepada ku
yang mengajak kepada jalan kebaikan
yang mengajak kepada kebahagiaan hakiki, kesuksesan dunia akhirat.

Kutemukan diriku menjadi orang yang berbeda,
menjadi orang yang lebih di dengar dari pada sebelumnya,
dikagumi teman-teman, dan sangat di percaya orang tua
Aku semakin yakin, inilah jalanku, inilah teman-temanku, inilah geng baruku.

Jalan dakwah itulah istilahnya,
aku ingin tetap di jalan ini,
jalan yang mengajak kita secara bersama-sama menempuh sukses.
Sukses yang hakiki.

Tapi mulai sulit kaki ini melangkah,
mulai banyak teman-teman ku yang berguguran,
dalam kesenangan semu yang menjerumuskan,
apakah aku akan mengikuti jejak mereka?

Atau aku akan terus mengikuti jalan yang lurus ini
yang jelas-jelas membawa kepada kebahagiaan hakiki?
Bodohnya diriku mengikuti jejak mereka,
yang jelas-jelas menjerumuskan kepada lubang penyiksaan abadi?

Jalan lurus ini memang tak mudah,
tapi itulah letak tantangannya,
itulah yang membedakan antara orang mulia dengan si ceper.

si ceper jatuh dan marah saat dipukul anak kecil
orang mulia tertawa jika dipukul anak kecil

si ceper tergoda dengan permen
orang mulia juga tergoda dengan permen tapi ia lebih memilih nasi dan ayam.
Nasi dan Ayam mampu membuat energi yang lebih besar
sedangkan permen hanya menyenangkan hati untuk sementara.

Ya allah berikanlah aku petunjuk...
Kuatkanlah aku...

0 komentar: